Rabu, 22 April 2009

BURSA GLOBAL EXPO 2009















BURSA GLOBAL EXPO 2009


Dalam rangka menghantarkan Kota KLATEN sebagai kota AGROPOLITAN Bursa Global bersama Perhimpunan Florikultura Indonesia (PFI) mengadakan acara BURSA GLOBAL EXPO 2009 pada

  • Tanggal : 8 - 17 Mei 2009
  • Tempat :Alun - Alun Kota Klaten
Acara : Deklarasi PFI Kota Klaten
Pameran Tanaman Tingkat Nasional (Anthurium dan Sansivera)
Hiburan
Diklat (Untuk Pelajar dan Umum)

Kamis, 02 April 2009

YANG LARIS JELANG NATAL: KASTUBA DAN LILY


Saat ini, dekorasi Natal memang tak hanya terfokus pada pohon cemara yang dihias berbagai ornamennya saja. Anda pun dapat memilih tanaman hidup yang segar. Tengok saja kastuba, dengan warna daunnya yang cantik menyala, tak heran bila tanaman ini lalu dikenal sebagai christmas flower.

Keunikannya terletak pada daun yang dapat mengalami perubahan warna, menyerupai bunga. Bisa saja orang mengira yang berwarna merah adalah bunganya. Padahal, itulah warna daun muda kastuba. Uniknya, ada pula jenis daun yang berwarna pink kemerahan, pink keunguan, putih polos, atau putih bersemu kuning kehijauan.

Sedangkan bunga kastuba terletak di ujung dahan, berwarna putih kekuningan. Daunnya yang sudah menua akan berubah warna menjadi merah tua kehijauan, sehingga warna kontras hijau dan merah inilah yang membuatnya makin spesial di Hari Natal.

Sebaliknya, bunga lily dianggap ‘sakral' dan dimuliakan karena warnanya yang putih bersih. Selain identik sebagai lambang kesucian, warna putih juga diibaratkan sebagai cahaya kebahagiaan. Tak berlebihan bila banyak orang berpendapat, "Lily is the sign of purity," alias lambang kesucian. Dalam sekali, bukan, makna dari bunga indah berbentuk mirip terompet ini?

Bunga Lily terbagi ke dalam dua jenis, yaitu lily oriental seperti Fruity Pink, Pompai, Carla, dan Cassablanca. Dan jenis lily asiatic, seperti Dazzle atau Terra Gold. Di Indonesia, terutama Jakarta, Lily yang sangat popular adalah spesies Lilium lancifolium. Sedangkan varietas yang sering digunakan pada saat Natal adalah Christmas Lily "Snow Queen" dan Christmas Lily "White Fox".

Keindahan kastuba dan lily memang tak perlu diragukan lagi. Untuk menjaga agar warnanya tetap segar dan cantik, sebaiknya kastuba dan lily tak terkena sinar matahari langsung. Lebih bagus lagi, tanaman ini ditutup kantong plastik. Apalagi, bila terkena cahaya matahari langsung, daun kastuba akan kering dan membusuk.

Menurut Herlina Mutmainah, SP, ahli pertanian dan pehobi tanaman hias, "Kastuba yang terlalu banyak terkena cahaya matahari daunnya hanya akan berwarna hijau." Jadi, baik kastuba maupun lily sebaiknya ditanam di pot berwarna netral. Sehingga fokus pandangan akan tertuju langsung pada keindahan warna daun dan bunganya.

Kastuba sangat cocok diletakan di teras, atau sudut-sudut ruang sebagai focal point interior rumah Anda. Misalnya, di pintu masuk ruang tamu, di atas meja bundar di tengah-tengah ruangan, area tangga, atau berdampingan serasi dengan pohon Natal. Dan Lily dapat tampil sendirian dalam vas kaca, tanpa harus dirangkai bersama bunga lain.***
(NOVA/Lucy Maulana, Noverita)

MENGENAL BROMELIA


Bentuk unik dan warna mencolok bunga yang berada di antara hijau helai-helai daunnya, adalah daya tarik utama bromelia. Warna daun dan bunganya cemerlang hampir di segala musim. Bunga bromelia bisa bertahan satu sampai tiga bulan. Rata-rata sebuah bromelia memiliki 40 helai daun yang bagian ujungnya melengkung. Pada beberapa spesies bagian daunnya terdapat gerigi, sedangkan pada spesies lainnya lembut, tanpa gerigi.

Bromelia bisa ditanam tunggal di dalam pot, bisa pula disusun membentuk koloni. Pada umumnya, koloni bromelia diletakkan di tepi jalan setapak atau dijadikan point of interest di tengah-tengah taman. Tanaman ini umumnya dikembangkan dengan biji atau anakan.

Bromelia termasuk keluarga Bromeliaceae. Ia berasal dari Argentina dan Brasil. Warga Amerika Latin mengenal bromelia sebagai tanaman berkhasiat obat, yakni sebagai obat cacing. Tanaman yang masih satu keluarga dengan nanas ini kaya kalsium dan vitamin C. Daun bromelia juga bisa mengempukkan daging.

Nama bromelia diambil dari nama seorang ahli botani asal Swedia, Olof Ole Bromell. Total jumlah spesiesnya di dunia mencapai belasan, tetapi di Indonesia, jenis bromelia yang populer kebanyakan berbunga oranye (Bromelia alta, B. flemingii, B. humilis, B. scarlatina, dan B. serra) atau merah (Bromelia alsodes, B. antiacan, B. goyazensis, dan B. hieronymii). Bromelia kuning (Bromelia chrysantha, B. goeldiana, dan B. palmeri), ungu (Bromelia horstii dan B. karatas), dan merah jambu ada, tetapi jumlahnya sedikit.

Bromelia tidak terlalu rewel, dalam arti tidak perlu disiram terlalu sering dan tahan ditanam di dataran rendah. Penyiraman sebaiknya disesuaikan dengan kondisi medianya, jangan terpancang dengan rutinitas. Siramlah kalau medianya sudah terlihat kering. Ingat, bahwa kondisi media pasti berbeda antara cuaca panas, mendung, dan hujan. Selain itu, bromelia paling benci lingkungan yang kering. Di ketiak daunnya harus selalu ada genangan air.

Pemupukan bromelia juga tidak terlalu sulit. Jika Anda menggunakan pupuk slow release maka pemupukan cukup dilakukan tiga bulan sekali. Pupuk NPK juga bisa digunakan tapi pupuk jenis ini mudah sekali diserap. Jadi frekuensi pemupukan harus lebih sering.

Agar bromelia Anda segar dan dan rajin memamerkan warna-warni bunganya, sebaiknya jangan ditanam di tanah. Gunakan media sabut kelapa atau cacahan pakis. Selain itu, bromelia sebaiknya ditempatkan di tempat terbuka, namun tidak terkena sengatan matahari langsung. Agar hasilnya baik “kandang” Bromelia bisa dinaungi dengan penutup jala atau paranet.*** Tabloid Rumah

NEPHENTES: SI KANTONG NAN IMUT


Flora ini banyak digemari bukan saja lantaran warnanya yang indah. Melainkan karena bentuknya aneh serta tabiatnya yang “nyeleneh”.

Si kantung maut alias Nepenthes adalah tumbuhan yang ditakdirkan menjadi penghuni tanah tandus. Ia hidup di kawasan rawa gambut serta pesisir pantai berbatu-karang. Nepenthes hanya memiliki akar berukuran pendek berjumlah sedikit. Kondisi itulah yang memaksanya menjalani profesi sebagai tumbuhan penyamun.

Agar sukses merampok serta membunuh para korban, Nepenthes dikaruniai peranti penyergap berwujud kantung ajaib. Terletak di ujung daun. Organ pembantai itu dilengkapi senjata kimia di dalamnya. Kantung maut yang dimiliki Nephentes dibagi menjadi tiga bagian. Yaitu kantung atas, kantung antara dan kantung bawah.

Kantung atas memiliki helaian daun penutup. Sewaktu daun masih muda, pundi pemangsa tertutup. Lantas, membuka ketika sudah dewasa. Namun bukan berarti kantung penyamun ini menutup sewaktu masih muda saja. Ia menutup diri ketika sedang mengganyang mangsa. Tujuannya supaya proses pencernaan berjalan lancar dan tidak diganggu kawanan musuh yang siap merebut makanan yang sudah ia peroleh.

Bibir lubang kantung dilengkapi dengan alat penipu. Organ itu berwarna merah serta mampu menebarkan aroma manis. Binatang penyuka menu bercitarasa manis dan beraroma busuk adalah sasaran empuk bagi Nephentes. Semisal semut dan lalat.

Warna bibir nepenthes yang merona serta beraroma manis itu akan memikat dan membuat lengah calon mangsa. Binatang yang terpikat dan bernasib apes tergelincir masuk ke dalam kantung antara yang licin. Cairan yang berada dalam kantung tengah lalu mencerna tubuh mangsa itu. Cairan asam itu taklain adalah ramuan enzim bernama proteolase. Dihasilkan oleh kelenjar di permukaan kantung bawah. Tubuh mangsa naas itu kemudian diolah menjadi garam Posphat dan nitrat. Nah, sekarang berarti periuk maut itu telah menyajikan “sop semut” yang siap diserap oleh Si Nepenthes.

Tidak semua jenis Nepenthes memiliki mangsa favorit yang sama. Semut adalah menu kesukaan bagi N. mirabilis. Species kantung semar N. albomarginata adalah pemburu sepesialis rayap. Ada pula species katung semar yang “vegetarian” alias tak suka menyantap daging. Yaitu N. ampullaria. Kantung semar yang satu ini suka melalap guguran dedaunan dari tumbuhan yang berada di atasnya. Sedangkan N. lowii adalah kantung semar yang bermenu favorit kotoran burung.

Jika Anda berminat, silakan membeli nepenthes hasil tangkaran. Selain tidak melanggar aturan yang ada, nepenthes hasil tangkaran umumnya lebih mudah hidup ketimbang yang diambil langsung dari alam. Nepenthes hasil budidaya memiliki daun yang bersih. Sebaliknya nepenthes dari alam biasanya berdaun kusam serta banyak bercak kotoran.

Meski terkenal suka membunuh, nepenthes adalah jenis mahluk yang dilindungi oleh negara. Undang-undang No. 5 tahun 1990 tentang konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan ekosistimnya mengatur peredaran nepenthes. Hanya nepethes yang besaral dari penangkaran yang boleh diperjual-belikan. Pemerintah melanrang perdagangan Nepenthes yang berasal dari alam. Selain itu, nepentes lokal juga dilarang hijrah ke luar negeri.

Ada banyak bentuk kantung yang bisa ditemukan. Mungil, bongsor langsing, dan pendek gembrot. Pola warnanyapun berraneka ragam. Ada yang bermotif loreng-loreng merah, merah menyala, dan hijau. Umumnya kantung berwarna indah dimiliki oleh jenis nepenthes dataran tinggi yang berhawa dingin. Ada sekitar 82 jenis nepenthes yang tumbuh di muka bumi. 64 di antaranya merupakan tumbuhan endemik Indonesia.

Kalimantan adalah kerajaan nepenthes. Di pulau suku Dayak itu hidup sekitar 32 jenis nepenthes. 29 jenis lain merupakan hartakarun hayati yang tersimpan di Sumatera.Secara garis besar, jenis nepenthes dibedakan menjadi dua. Yaitu nepenthes dataran tinggi serta nepenthes dataran rendah.

Berbagai jenis nepenthes dataran tinggi diantaranya yaitu N. burbidgeae, N. Lowii, N. Rajah, N. Villosa, N.Fusca, N.Sanguinea. Mereka adalah penghuni daerah pegunungan berketinggian lebih dari 100 m di atas permukan air laut. Kisaran suhu malam hari yang dibutuhkan yaitu 20 – 12ºC. Sedang kisaran suhu siang hari antara 25 – 30ºC.

Jenis nepenthes dataran rendah diantaranya yaitu N. alata, N. egmae, N. khasiana, N. mirabilis, N. ventricosa, N. ampullaria, N. bicalcarata, N. gracilis dan N. Maxima. Mereka tumbuh subur di dataran berketinggian 0 – 500 m di atas permukaan air laut. Nepenthes dataran rendah biasanya bersifat epifit menempel di batang pepohonan. Namun ada juga yang hidup secara terestrial di atas tanah bercampur sersah dedaunan. Suhu harian yang dibutuhkan berkisar antara 22 – 34º C.

Sementara itu, kelebaban udara yang diinginkan yaitu 70 – 95%. Nepenthes berkembang biak secara vegetatif menggunakan anakan dan secara generatif menggunakan biji. Tumbuhan karnivora ini termasuk jenis flora berumah dua. Artinya, tiap tanaman hanya memiliki satu jenis kelamin bunga. Jadi biar bisa menghasilkan keturunan, ia musti melakukan perkawinan silang. Hal itulah yang menyebabkan banyak terdapat species Nepenthes yang terlahir dari hasil persilangan alami.

Perbanyakan secara vegetatif menggunakan anakan lebih mudah dilakukan.. Bayi nepenthes tumbuh di batang bagian bawah. Tanaman muda itu siap disapih alias dipotpong dari induknya jika sudah memiliki jumlah akar yang banyak. Setelah dipotong, ia harus segera ditanam menggunakan media berbahan baku campuran sepagnum moss dan butiran zeolith. Perbandingannya 4 : 1. Spagnum moss dan zeolith bisa dibeli dari toko pertanian.

Nepenthes lebih senang disuguh binatang daripada pupuk kandang atau pupuk buatan. Warna kantungnya justru akan semakin menawan dan besar jika media tanamnya miskin hara alias tak subur. Berkat kantung maut itu Anda tak perlu lagi repot-repot meramu pupuk untuk Si nepenthes. Ukuran kantung maut malah kian menciut jika Anda memaksakan diri menjejali nepenthes dengan pupuk.

Kantung semar adalah tanaman penyuka air. Jatah penyiraman tidak boleh terlambat. Media tanam wajib selalu dalam keadaan basah. Jika hal itu diabaikan, daun nepenthes bakal keriting dan bahkan bisa menuai ajal. Nepethes yang ditanam secara indoor harus disiram sebanyak 2 – 3 hari sekali. Sementara itu jatah air sebanyak 1 hari sekali diberikan bagi nephaenthes yang ditanam di luar ruangan.

Syarat tumbuh lain yaitu sinar matahari penuh. Tumbuhan pemangsa ini setiap hari harus mendapat jatah sinar matahari selama 10 – 12 jam. Intensitas sinar matahari yang baik yaitu sebesar 50%. Kondisi seperti ini bisa dibuat dengan jalan memberikan naungan. Selamat berkebun dan mengoleksi Kantung Semar.

(Dikutip dari: agriculturesupercamp.wordpress.com/)

ANEKA RAGAM PURING




Corak dan warna daunnya beragam. Bisa digunakan sebagai pagar tanaman atau tampil di pot. Bisa juga jadi obat dan menyerap racun. Celakanya di mata orang awam, tanaman ini dikenal sebagai tanaman kuburan. Padahal, banyak ragamnya, dan banyak peminatnya.
Setelah kamboja, tanaman lain yang kerap disebut sebagai tanaman kuburan adalah puring. Sama seperti kamboja, di mata awam, puring pun kerap dipakai untuk menandai letak makam seseorang di tanah pemakaman. Padahal, kini kedua tanaman tersebut sudah “naik daun”. Puring (Codiaeum variegatum) atau croton termasuk keluarga Euphorbiaceae, dan banyak dicari orang.

Keindahan tanaman ini terletak di variasi warna dan besar kecilnya serta corak daunnya (bintik-bintik, garis, dan lain-lain). Warna daunnya amat beragam, mulai hijau kekuningan, orange, sampai merah cenderung ke ungu. Biasanya, semakin tua usia tanaman, warnanya semakin menonjol.

Bahkan, dalam satu tanaman bisa memiliki dua atau tiga warna, semisal merah, hijau, dan kuning. “Bentuk daunnya pun sangat banyak, ada yang berbentuk huruf Z, burung walet, keriting spiral dan banyak lagi,” tutur Heri Syaefudin, landscaper dari Gonku Landscape and Stock Plant. Tanaman ini amat banyak jenisnya. Bahkan Heri berani menyebutkan di tempatnya saja ada sekitar 50 jenis puring.

Tanaman ini termasuk tanaman yang bisa terkena matahari secara langsung. Cocok sekali dipadu padankan untuk landscape. “Karena warnanya beraneka ragam, kalau dipakai untuk landscape bisa membentuk massa warna.”

Ketinggian puring bisa mencapai 5 meter. “Tapi ditanam di pot juga bisa. Perbanyakan biasanya dilakukan dengan stek dan cangkok. Bisa ditanam di-border dengan sekelompok tanaman lain, atau soliter tampil sendiri,” papar Heri yang menyebut puring sebagai tanaman yang gampang dirawat. “Penyiraman dilakukan sesuai kebutuhan, sehari sekali ketika musim panas. Medianya pun tanah seperti tanaman lain pada umumnya. Bisa juga dicampur dengan pupuk dan pasir.”

Penyakit yang menghinggapi puring biasanya semut atau kutu putih. Untuk membasminya, tinggal disemprot saja dengan pembasmi serangga.

Untuk ke depannya, Heri yakin prospek puring akan semakin berkembang. Karena selain cantik dipandang, tanaman ini juga cepat tumbuh dan tidak terlalu menuntut perhatian tinggi dalam merawatnya. “Semoga puring juga bisa diterima orang, seperti orang menerima kamboja jepang,” tandasnya penuh harap.

Serap Gas Beracun

1. Dapat dipakai sebagai pagar hidup pembatas antara halaman rumah dan jalan.

2. Jika terkena sinar matahari tampilan puring akan makin cantik, cerah, dan menawan.

3. Selain lidah mertua, sri rejeki, dan pandan bali, ternyata puring juga mampu menyerap gas beracun dengan berbagai kapasitas rendah hingga sedang.

4. Tanaman puring aslinya berasal dari wilayah Maluku.

5. Kegunaannya sebagai tanaman obat, antara lain rebusan daun hijau yang sudah tua dipakai untuk mandi dan diminum untuk menurunkan demam. Rebusan akar digunakan sebagai obat pencahar.***

(Sumber: Nova)